Dagadu Djokdja: Dua Windu Makin Melaju!
2010-01-11 -
Sembilan Januari dua ribu sepuluh Dagadu Djokdja menggenapi usianya yang ke-enam belas tahun. Terlewati sudah masa kanak–kanak, masa yang konon merupakan masa yang paling menyenangkan lantaran kehidupan hariannya diisi dengan bermain, bermain, dan bermain. Memasuki di dua windu usianya, Dagadu Djokdja mencoba untuk semakin memantapkan jati dirinya sebagai Institusi kreatif aseli Jogja. Pada perayaan usia dua windu, Dagadu Djokdja mencoba untuk berhenti sejenak, berkaca pada masa lalu, menghirup energi positifnya, jadikan sebagai sangu untuk kemudian membawanya berlari dan melaju. Dua windu Dagadu Djokdja makin melaju.
Melengkapi usianya yang ke-enam belas tahun, lantaran banyak bermain–main, tentunya banyak cerita yang juga ikut mewarnai. Setiap sudut kota Jogja tidak pernah habis–habisnya dilirik oleh Dagadu Djokdja sebagai sarana untuk bercerita, berkaca, meluapkan emosi, bahkan mentertawakannya seolah mentertawakan dirinya sendiri. Bukankah lebih menyenangkan bisa mentertawakan diri sendiri dari pada mentertawakan orang lain? Mencoba untuk selalu mengkritisi dirinya sendiri dan selalu coba untuk berbeda, pada perayaan ulang tahunnya yang ke-enambelas pun berbeda dengan perayaan ulang tahun sebelumnya. Diulang tahunnya kali ini Dagadu Djokdja secara koorporasi berkeinginan kuat menjadi satu keluarga besar yang semakin bisa berbagi canda dan tawa di suka dan duka. Oleh karena itulah perayaan ulang tahun kali ini dirayakan hanya dalam kalangan terbatas, batasan internal keluarga besar PT. Aseli Dagadu Djokdja. 
Sembilan Januari dua ribu sepuluh, di hari Sabtu pagi yang cerah, perayaan diawali dengan bersepeda gumbira dengan mengambil titik start di gerai UGD Jl . Pakuningratan 15 Yogyakarta. Kurang lebih enam puluh rombongan bersepeda, yang terdiri dari staf karyawan, jajaran direksi komisiaris, gardep dan alumni pagardepan-nya, serta para rekanan, memenuhi rute jalan melewati Tugu Jogja – Jl Mangkubumi – Jl Malioboro – Jl. Sultan Agung – Jl. Taman Siswa – dan finish di Panti Asuhan Putera Muhamammadiyah, Lowanu. Perayaan kali ini memang dipusatkan di panti asuhan, diawali dengan memberikan workshop pemanfaatan kertas daur ulang kepada penghuni panti, acara kemudian dilanjutkan dengan seremonial syukuran potong tumpeng, doa bersama, bermain bersama penghuni panti, dan beragam aktivitas lainnya. Nuansa hangat kekeluargaan sangat terasa pada perayaan ini, hal ini didukung beberapa games yang memang sudah disiapkan panitia. Acara berakhir sekitar pukul satu siang.
Tentu merupakan kebahagiaan tersendiri di dua windu usianya, Dagadu bisa berbagi, sebagai sarana merefleksikan jati diri, dan meyakinkan diri untuk meraih mimpi di masa mendatang. Disadari jika dibutuhkan sinergi kuat untuk menghadapi tantangan ke depan, tantangan oleh mereka yang menjiplak produk–produk Dagadu Djokdja tanpa rasa risih dan isin sama sekali, tantangan untuk mewarnai dunia kreativitas, tantangan untuk selalu tanggap akan perubahan namun tetap berpegang pada budayanya sebagai wong Jogja. Nderek Manggayubagyo, enam belas tahun Dagadu Djokdja.




