disain baru
You need to upgrade your Flash Player

PT. Aseli Dagadu Djokdja

01. Dagadu VS Matamu, Dagadu for Beginners

Bagi masyarakat Jogja, kata Dagadu sudah ada sejak beberapa dasawarsa lalu dikenal sebagai umpatan: matamu (!). Inilah bahasa walikan, bahasa slang orang Jogja yang disusun dengan cara membalik empat baris huruf Jawa.

Permainan sandi dalam bahasa walikan ini dilakukan dengan cara menukar empat baris pertama dengan baris ketiga, baris kedua dengan baris keempat dan begitu pula sebaliknya. Kata berbahasa Indonesia dipenggal berdasarkan suku katanya, kemudian dipasangkan berdasarkan urutan baris huruf Jawa tersebut, tanpa perlu mengubah huruf vokalnya. Kata DA-GA-DU menjadi mudah dipahami. DA pada baris kedua dibaca MA yang ada pada baris keempat. GA pada garis keempat dibaca TA di baris kedua, dan DU (DA) berpasangan dengan MA (MU). Jadi DA-GA-DU berarti MA-TA-MU.

 

Itulah sebabnya kenapa logo Dagadu Djokdja bergambar mata. Tetapi bagi Dagadu Djokdja, mata bukan semata-mata logo. Mata adalah idiom yang lekat dengan citra kreatifitas, dunia rancang merancang. Dalam khasanah budaya Jawa, mata adalah mripat, yang konon kabarnya berdekatan makna dengan kata ma’rifat, yang dimaknai sebagai keinginan agar dapat memberikan manfaat bagi diri dan lingkungannya. Matapun menjadi sarana utama untuk sightseeing, jalan-jalan sambil menikmati suasana dan panorama kota. Maka Dagadu berharap dapat mempresentasikan kepedulian terhadap masalah perkotaan dan kepariwisataan di Jogja.

Sebagaimana dimaklumi, Dagadu Djokdja adalah sebuah ikon pariwisata Jogja setelah gudeg, batik, perak, dan bakpia. Namun keberadaannya telah banyak diserupai oleh para pembajak –yang jauh dari sifat bijak dan tiada lagi rasa isin. Namun demikian, PT. Aseli Dagadu Djokdja tiada henti berinovasi. Meskipun banyak pihak lain menjual produknya dengan iming-iming komisi tinggi tanpa peduli pada kualiti, kami tetap konsisten pada posisi sebagai branded product & exclusive distribution ini.

Komitmen : Nice Design-Good Quality-Excellent Services

Semua itu demi memberikan kenangan tersendiri kepada para pembeli, dan menjadikan oleh-olehnya sebagai sesuatu yang lebih bernilai dan memberikan kebanggaan. Kami menjual semuanya dengan harga standar, tidak bermaksud membebani pembeli hanya karena desakan komisi tinggi. Namun, karena hidup itu harus berbagi dan sangat dianjurkan untuk menjalin silaturahmi, maka dalam batasan-batasan tertentu kami tetap mengutamakan kemitraan dengan stakeholder wisata (Tour Agent, Hotel, Restaurant, Armada/Taksi, dan sebagainya).

02. Marketing Matters

”Cinderamata alternatif dari Djokdja” dipilih sebagai product positioning berkait dengan peluang pasar, karakter produk, dan realitas kemampuan perusahaan (terutama dalam hal distribusi) pada saat itu. Ketika terbukti memberikan kontribusi finansial yang sahih, positioning ini terus ditaati – bahkan hingga hari ini

Positioning produk sebagai cinderamata memang didahului oleh segmentasi pasar yang membedakan kelompok wisatawan dan bukan wisatawan. Konsekuensinya terhadap strategi produk adalah tuntutan akan selalu hadirnya cerita atau informasi mengenai lokalitas tempat cinderamata itu berasal. Cerita itu dipresentasikan dalam ungkapan verbal maupun visual pada produk dan sejumlah gimmick yang menyertainya seperti hang tag, kemasan, visual merchandising, hingga buletin. Cerita yang dikemas dalam bentuk grafis dan diterakan pada tiap produknya menjadi alat utama untuk membedakan cinderamata dengan oleh-oleh biasa. Cerita itu tetap bertahan walaupun lini produk direntang ke berbagai arah sebagai upaya diversifikasi untuk menjawab permintaan pasar.

Terhadap distribusi, positioning ini mengharuskan penguatan saluran di Yogyakarta. Mandulnya regulasi dan penegakan hukum dalam perlindangan hak cipta, yang membuat pemberantasan pembajakan merek dan produk menjadi demikian sulit dan mahal, menghambat penguatan basis distribusi dalam skala kota. Yang dapat dilakukan kemudian hanyalah bombardir komunikasi untuk memperkuat basis distribusi dalam skala gerai.

Komunikasi memang menjadi titik penting sekaligus genting dalam perjalanan produk Dagadu Djokdja. Pada masa awalnya, komunikasi dilakukan semata-mata melalui produk dan kemasannya, senyampang mengandalkan liputan media. Sejak 1996, pemunculan di media dilakukan secara terencana melalui iklan citra, produk, dan event. Periode 2000-2003 ditandai dengan media relationship yang makin erat, berkait dengan banyaknya event off-air yang diselenggarakan untuk pembentukan komunitas.

03. And the Story Goes On...

Kini, pasar dan keseluruhan lansekap bisnis telah berubah. Reformasi politik di Indonesia menggeser struktur dan modus komunikasi dalam ranah publik. Semua pihak dapat saling beroposisi sehingga budaya tanding yang merupakan hal istimewa di masa Orde Baru kini tidak ampuh lagi. Humor dan kritik menjadi hal yang biasa diucapkan oleh rakyat kebanyakan, artis, maupun politisi melalui media massa yang semakin banyak dan kian terbuka. Peran internet juga makin besar dalam mengembangbiakkan informasi dengan jumlah, jangkauan, dan kecepatan tiada tara.

Di sisi lain, pasar semakin terfragmentasi. Semakin banyak pemasar melayani kebutuhan spesifik. Merek tertentu kian melayani gaya hidup tertentu, yang tidak memiliki commonalities signifikan dengan gaya hidup yang berbeda. Maraknya wirausaha (dengan dukungan kapital memadai plus kiat praktis dari sekolah bisnis), gencarnya budaya Indie, dan anak muda yang makin fashionable melahirkan budaya distro. Semua ini memaksa Dagadu Djokdja untuk mampu memeragakan jurus yang makin sakti agar tetap selamat dalam kian ketatnya pertarungan merebut hati dan meraup kantong konsumen. Apalagi anak muda makin artikulatif dan kian akrab dengan komputer grafis. Bagi mereka, mewujudkan gagasan dalam bentuk gambar bertipografi menjadi makin mudah, sementara menemukan dan mengenali keistimewaan modus komunikasi produk-produk Dagadu Djokdja menjadi semakin susah.

Hingga tahap tertentu, produk-produk Dagadu Djokdja mungkin belum menandakan pencapaian tahap mature dalam suatu siklus produk. Tak ada tanda stagnasi apalagi penurunan dalam penjualan. Namun Dagadu Djokdja juga hendak mewaspadai terjadinya pergeseran segmen pengguna, terlebih ketika pembajakan memungkinkan cinderamata ini dibeli di mana-mana sehingga seleksi konsumen berdasar outlet maupun harga tak lagi dapat dilakukan. Tanpa diferensiasi yang nyata antarlini produk, bergabungnya segmen bawah (yang diasumsikan sebagai lebih rendah dalam hal pendapatan dan pendidikan) secara berangsur-angsur membuat segmen di atasnya angkat kaki. Ini sangat merepotkan terlebih tatkala Dagadu Djokdja, sebagai suatu cinderamata, memerlukan persepsi positif dari warga kotanya yang sebagian besar adalah mahasiswa dan kaum intelektual lainnya.

Kecil lahir, besar berkembang, tumbuh terbang, mengukir angkasa................

x
home  |  dagadu  |  omus  |  hirukpikuk  |  dayagagasdunia  |  katamata  |  gerai  |  pesawat  |  komunitas
forum komunitas  |  download  |  berita dagadu  |  cerita katamata  |  pt add  |  karier  |  kontak